Disclaimer : postingan ini real pendapat penulis sendiri. Jika ada pihak yang merasa tersakiti atau baper, mohon maaf mungkin kurang piknik.
Jadi begini, Senin kemarin tanggal 20 November 2017 bisa jadi hari bersejarah dalam hidupku. Setelah sekian lama bisa ngoceh lewat blog soal nestapa guru honorer *ciye... Akhirnya atas dasar solidaritas senasib, serasa, sepenanggungan aku ikut aksi damai dan dengan diawasi papa. *ashek!!*
Dan, kenapa baru posting?? Ya pengen lihat aja seberapa banyak orang memposting tanpa harus nyontek berita di kanal lainnya demi trafick #uhuk. Hahaha.. Nggak dink, cuma baru sempet aja sih. Dan lihat sejauh mana publik beropini dan opini itu datang dengan sendirinya karena ya.... Isi otak manusia aja beda-beda.
Iya, menghujat!! Kami dibilang makhluk yang kurang sabar dan kurang bersyukur. Mengatakan kami pingin cepat kaya lah, bilang gak etis karena poster yang (mungkin) bagi orang lain itu hal sensitif, mengatakan kami tidak bisa mencari rejeki lain selain jadi guru.
Coba deh kita REALISTIS. Kami mencari "pengakuan" dimana dalam ketentuan dapodik yang terbaru bahwa guru Honorer harus memiliki SK Bupati supaya bisa mengikuti program PPG. SK bupati juga berfungsi sebagaimana untuk mengajukan NUPTK, impassing, bahkan untuk honor guru honorer yang selama ini diambilkan dari dana BOS juga jika tidak memiliki SK Bupati maka dana BOS tidak bisa untuk menggaji guru honorer.
Salah siapa mau jadi guru dan nggak mau banting stir?!?
Oh iya, kami mungkin orang yang terlalu pasrah dan lempeng aja mau jadi guru. Tapi perlu diketahui sih bahwa menjadi guru bukan semata menginginkan gaji besar. Tidak! Tapi soal hati! Kalaupun semua orang mau jadi pedagang, polisi, tentara, dokter, siapa nantinya yang mau nerusin jadi guru. So, yg udh banting stir dari guru ke profesi lain ya nggak usah nyinyir.
Jadi guru ikhlas donk dengan gaji segitu?!?
Ikhlas?? Harus dikoar-koarkan keihklasan kami? Yang rela lembur tanpa ada honor, yang rela diberi beban tambahan sebagai operator bos, aset, dapodik. Bahkan kalau tunjangan nggak cair siap jadi bulan-bulanan kemarahan?? Tahu apa soal keikhlasan pribadi masing-masing orang??
Realistisnya lagi, memang banyak yang merasa belum berani menikah karena dengan penghasilan segitu, nanti anak istri mau dikasih makan apa. Kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi atau tidak. Ya, aku pribadi merasakan sendiri bahkan papa juga honorer dan akulah yang tahu persis bagaimana kerja kerasnya demi sebuah kata "cukup" untuk keluarga.
Kami sadar Tuhan maha kaya, tapi guru juga manusia biasa coy! Khawatir tentang masa depan mah hak yang bagi sebagian juga dialami. Kalau enggak pernah khawatir ya salut deh!
Harus gitu menunjukkan ke orang-orang "oh..aku guru SD kerja sambilan sebagai penyanyi dangdut dengan honor lalalalala...lilililili...."
Tahu apa sih tentang isi dompet tiap orang?
Jika kami menyuarakan isi hati dan aspirasi ke pihak yang lebih mengerti aja dibilang nggak tahu diri dan nggak bersyukur, kalian apa bisa menjalani seperti kami??
Dengan beban kerja setara guru PNS. Dengan gaji yang besarnya jauh dibanding gaji pembantu rumah tangga. Dengan janji manis ini itu lalala tapi belum direalisasikan. Dengan cemoohan dari kalian pihak yang nggak tahu dan nggak paham tentang profesi kami. Dengan umpatan kalian yang mengatakan kami tidak menghargai seragam dinas kami. Karena kami punya hati, punya rasa, punya perasaan lelah jadi wajar donk kami mengadu!.
Bahkan kami pun sudah sering mengadu ke Tuhan dalam setiap solat dan doa kami. *Apa iya harus di foto dan di upload di sosial media biar kalian tahu ikhtiar dalam doa kami? Hellaw!!! Beribadah bukan untuk dipamerkan* (kecuali emang sengaja mau pamer!)
Jika dalil keislaman keluar dari mulut kalian.... Silahkan lihat diri kalian sendiri lebih dulu, sudah lebih baikkah diri kalian dari kami yang kalian kata-katain seenak hudelnya sendiri?
So, cukuplah dengan mendoakan kami dengan segala usaha kami. Nggak usah menghina sampai keluar bahasa kasar. Karena disadari atau tidak (tapi ya nggak sadar sih) bahwa kalian bisa dengan lemes mengetikkan jari di atas layar hp juga dulunya diajarin baca tulis sama sosok guru di sekolah.
Buat yang tidak suka... Let me to say, biarkan kami berkreasi dengan cara kami. Toh, aksi damai ini juga demi siapa? Selain demi kami juga demi keberlangsungan anak didik kami nantinya. Karena apa, tanpa peran guru apalah arti seorang anak sekolah. Ya nggak?
Atau... Mau diajar sendiri anaknya??? Kecuali buat yang memilih homeschooling sih.
Ya, era milenial mrmang kita tidak bisa melarang orang beropini apalagi sekarang update bisa diperoleh dengan mudah dan gamblang. Hanya saja, sejauh mana kita bisa pintar memilah berita, memahami dan bahkan berkomentar tanpa harus menyakiti.
Ya, era milenial mrmang kita tidak bisa melarang orang beropini apalagi sekarang update bisa diperoleh dengan mudah dan gamblang. Hanya saja, sejauh mana kita bisa pintar memilah berita, memahami dan bahkan berkomentar tanpa harus menyakiti.
Dan aku salut untuk keberanian teman-teman mengutarakan apirasi. Aku salut dengan kekompakan dan solidaritas teman-teman. Perjuangan belum berakhir. Mari kita kawal realisasinya. Semoga ada pelangi dibalik badai penantian ini.
Salam...
0 comments
Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)