credit : okezone.com |
Aku nggak habis fikir ketika postingan curhatanku ini dishare salah seorang teman guru. Kebetulan kami sama-sama sebagai guru wiyata bakti. Mungkin blio merasa postingan itu mewakili curahan hati mereka. Sesama kaum honorer.
Siapa sangka, bahwa temanku yang bernama pak Nofa itu men-share foto di grup yang menunjukkan realita guru honorer di negeri ini. Menurut aku itu hal yang wajar banget dilakuin. Tapi aku heran dengan reaksi dari ratusan komentar yang terpampang jelas disana.
Hingga aku menyimpulkan bahwa guru honorer itu dipuji dan dicaci.
Dipuji, karena kami memilih jalan hidup dengan penghasilan yang kurang manusiawi. Kasarnya sih buat beli bensin aja nggak cukup, boro-boro buat menghidupi anak istri. Tapi GUSTI ALLAH Maha Adil.
Dipuji, karena kami adalah golongan yang berpendirian teguh. Karena ijasah kami adalah guru ya kerjanya lempeng aja jadi guru.
Dipuji, karena masih ada orang yang peduli dengan dunia pendidikan. Dimana kalian tau sendiri kan ya, kebijakan gonta ganti. Ganti mentri ganti kurikulum.
Dipuji, karena kami peduli dan minterin anak orang. Bahkan harus mengorbankan anak sendiri yang seringnya jadi sasaran amarah. Anak rewel dirumah minta diperhatikan orang tuanya, tapi kondisi fisik udah capek duluan di sekolah.
Coba bayangin... Kurang baik apa coba kami???
Tapi... Nggak sedikit juga lho yang mencaci. IHH TEGA LO!!
Dicaci karena bodoh banget sih mau dibayar segitu sama pihak sekolah. Nggak ada kerjaan lain yang gajinya lebih banyak?
Dicaci karena kami termakan janji - janji manis pemerintah untuk jadi PNS. Nggak tau kapan diangkat jadi PNS.
Dicaci karena kami kerjanya santai. Cuma ngajar anak orang aja apa susahnya?
*Hellow!!!! Loe pikir ngajar nggak meres otak? Belum harus ada tugas tambahan jadi operator lah, melengkapi administrasi guru lah, usul pemberkasan buat guru sepuh yang PNS lah, belom lagi tugas-tugas lain yang aku rasa kalian tuh nggak bisa!!*
Dicaci karena kami galak sama anak orang dan orang tua dengan santainya protes bahkan maki-maki guru di sekolah.
Dicaci hanya karena anak kalian belum lancar berbicara, belum bisa perkalian. "Jan..jane.. gurumu iso mulang opo ora?"
Dicaci karena kami nggak bisa jadi panutan anak-anak sementara selain lingkungan sekolah, yang berperan utama dalam pendidikan karakter anak itu adalah keluarga dan lingkungan sekitar.
Mendengar seperti itu, membaca kometar nyinyir di grup facebook. Kami tau bahkan sangat paham, kalian enak ya dengan pilihan hidup kalian. Makanya dengan gampang dan enaknya mulut atau jari asal njeplak aja.
Kami bertahan karena kami sadar, kalian yang nyinyir belum tentu bisa seperti kami. Melaksanakan tanggung jawab yang setara dengan guru PNS. Menghandle anak orang dengan aneka macam latar belkang keluarga. Tetap rendah hati menerima komplain orang tua yang kadang acungan sabit ada dihadapan mata.
Jadi, aku berharap sebelum mencaci lihatlah diri kalian baik-baik. Sadar atau tidak, kalian adalah guru yang paling pertama untuk anak-anak kalian. Bahwa anak-anak kalian itu nggak semata meniru gurunya. Tapi juga orang tuanya. Jika orang tua aja nggak bisa menghargai orang lain dengan profesinya, ya jangan salahin gurunya kalau pada akhirnya anaknya ga bisa menghargai orang tuanya.
Buat yang memuji.... Ini adalah teror terbesar bagi kami supaya tidak terlena dalam zona nyaman. Buat aku dan mungkin buat yang lainnya, ini semacam dukungan bagi kami agar kami tidak terus merasa salah pilih. Satu kata... Terimakasih... Dari kami.
Sekian curhatan receh dari aku.
Salam Guru, Hidup Guru!!!
7 comments
Saaaabaaaar... Beginilah hidup. Padahal honorer juga bekerja keras, tapi balasannya? Hiks
ReplyDeleteJadi keinget salah satu webtoon kesukaan saya isinya tentang guru honorer. Wajib dibaca pemerintah!
salam satu data waelah... hahaha
ReplyDeleteaku emang ra ngajar sich, yow pernah ngajar dan itu bikin capek
mana siswaku itu luar biasa semua loh jeng, rata-rata punya keaktifan lebih alias nakal, rata-rata mereka adalah anak yang enggak niat sekolah, broken home, dll lah
tapi... aku dari mereka itu belajar, belajar banyak yang bakalan panjang yen tak tulis di sini, mending tak tulis nang blog nanggapin nih postingan ...wkwkwk
So must go on...dulu cita2 waktu SMP adalah jadi guru. Karena ingat guru SD kok bikin gue pinter baca dsb dll ya. Seiring berjalan waktu lupa tentang cita2 jadi guru. Tapi tetap berdiri didepan kelas ngajar MC juga bagian jadi guru. Akh abaikan sudah suara- suara yang hanya akan menguras energi kita. Satu lagi yang aku apresiasi dari guru selain sabar. Yaitu rasa empati , sensitif dan kasih sayang. Kalau nggak ada rasa ini. Jangan coba2 mau ngajatin anak orang hehe
ReplyDeleteSo must go on...dulu cita2 waktu SMP adalah jadi guru. Karena ingat guru SD kok bikin gue pinter baca dsb dll ya. Seiring berjalan waktu lupa tentang cita2 jadi guru. Tapi tetap berdiri didepan kelas ngajar MC juga bagian jadi guru. Akh abaikan sudah suara- suara yang hanya akan menguras energi kita. Satu lagi yang aku apresiasi dari guru selain sabar. Yaitu rasa empati , sensitif dan kasih sayang. Kalau nggak ada rasa ini. Jangan coba2 mau ngajatin anak orang hehe
ReplyDeleteAku bertahan sampai nikah mba. Setelah punya anak gak mau lagi. Selain caci maki dari luar dari dalam juga "gak dianggap" pantes lah kalau anak-anak murid bilang school boring
ReplyDeletedan gajinya tidak manusiawi sekali...
ReplyDeleteSemangat Bu guru.. kuatkan hati. Memang gak mudah, tapi menjadi guru adalah tugas mulia. Sabar ya, salam penuh hormat untuk Bapak, Ibu guru yang memilih jalan untuk mencerdaskan anak bangsa :)
ReplyDeleteSilahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)