Bapak bilang ada saat dimana matahari akan meredup karena dimakan oleh buto ijo yang biasa disebut grahono. Setelah melahap matahari grahono akan mencari anak-anak yang nakal dan berkeliaran di luar rumah. Apalagi kalau anak-anak nakal itu gak nurut orang tuanya sudah pasti akan dimakan juga sama grahono. Begitu grahono lehernya berhasil dipotong oleh dewa yang ada di langit, maka matahari akan kembali lagi dengan sinarnya.
Mendengar cerita bapak malam itu rasanya nyali saya ciut dan bahkan berhasil untuk tidak tidur dikamar saya sendiri. Mencari ibu dan bilang "nanti grahono maem aku, bu. Soalnya saya nakal." Semenjak itu kalau ada grahono saya selalu ngumpet.
...2016...
Disaat kini saya menyadari bahwa itu hanya cerita indah karangan bapak dan mitos yang memang lekat banget disekitar saya, jadilah saya penasaran dengan buto yang berhasil memakan matahari. Cerita itu terpatahkan dengan penjelasan di buku IPA saya sewaktu saya duduk di kelas enam SD. Dan sekarang setiap ada gerhana rasanya sayang untuk melewatkannya.
Memang hidup di desa sangat lekat dengan mitos apalagi menyoal grahono alias gerhana. Andai saja Planetarium hanya berjarak lima menit dari rumah, pasti saya udah ngajak papa dan Intan. Secara papa tadi pagi melarang saya keluar rumah dengan alasan "nanti kamu dimakan gerhana, sayangku." Oh ya..tumben kamu perhatian dan seromantis ini pa?. Hahaha...
Ketika gerhana datang, saya menyiapkan baskom berisi air untuk menangkap refleksinya dan melihat bagaimana proses gerhana terjadi. Ketika gerhana datang, saya dan teman-teman sibuk membangunkan pohon mangga dan kelapa agar bangun dan buahnya ga ikut dimakan grahono. Saat gerhana datang saya kebuk perut saya disaat masih hamil Intan dan membangunkannya untuk lihat grahono. Kalau orang tua nyuruh bagunin biar gak dimakan gerhana, tapi saya bisikin aja "dek, ayo bangun itu ada gerhana...lihat yuk sama mamah." Saat ada gerhana seperti pagi tadi, saya berteriak membangunkan bapak biar gak dimakan grahono. Anggap saja ini balas dendam yang terselubung. Hahaha...
Dan gerhana pagi tadi, suasana dirumah itu tenang dan sunyi. Pasar sepi penjual karena banyak yang libur, bapak harus menerima kenyataan para tukang ngedos libur dan menunda panen karena ada gerhana, jalanan depan rumah sangat lengang dan sepi, takbir dan sholawat berkumandang tanda kebesaran Allah dan saya ikut menyerukannya, saya mengambil kertas dan menangkap refleksinya melalui lubang jarum, dan kami berteriak heboh karena cahaya matahari masuk dari lubang genteng dan menampakkan bayangan matahari pelan tapi pasti tertutup bulan meskipun cuma sebagian. Lalu... dimana buto ijo grahononya???
Kemudian kami berandai: "andai 300 tahun nanti aku bisa liat gerhana lagu ya mah." Semoga gusti mengabulkan doa kita agar panjang umur. "Kalau mama apa yang akan dilakukan di 300 tahun yang akan datang?"
Sederhana saja...
"Aku hanya ingin terus disisimu, pah."
Kemudian guling menyambar wajah saya. Hahaha....
Purwodadi, 09032016
Dalam proses menikmati keresahan karena sumuk.
11 comments
Penduduk desaku dulu juga mukul lesung bertalu-talu untuk mengusir Betoro Kolo yang naksir bulan.
ReplyDeleteSekarang nggak ada lesung lagi
Salam hangat dari Jombang
Di tempatku juga berasa sepi, tapi di masjid ramai yang takbir.
ReplyDeleteKemarin aku ngajak Fauzan lihat gerhana pakai film kamera, lumayan keliahatan dan bikin Fauzan heboh.
Dari MAJT kelihatan cetha Chel ;)
ReplyDeleteItu anak nakalnya lagi ngambil pict grahono. . . Hahaha
ReplyDeleteAyah saya juga bercerita hal yang sama ... hahahah... dimakan buto ijooo...
ReplyDeleteditempat saya juga dimakan buto ijo mbak. bahkan, masih ada yang pakai mitos tersebut (khususnya) orang tua dulu.
ReplyDeletesaya ikut senang nih, walaupun saya gak bisa menikmatinya karena saya di jawa, hehehe
ReplyDeleteEmejing ya Chel, benar2 merinding melihatnya padahal dakuw nontonnya dari tipi, bener2 hikmah bagi yang mau merenunginya..
ReplyDeleteaku cuma lihat dari tipi loh, karena posisi kemaren lagi kerja hehe
ReplyDeleteso cuiiiit, aku ingetnya juga gitu, ada buto yang memakan bulan atau matahari ketika terjadi gerhana, tapi bingung makannya kek mana?
ReplyDeleteaaaah...closingnya so sweet hehehe
ReplyDeleteSilahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)